Selasa, 15 November 2011

Wafat-nya Kasino / Dono Warkop






Lampu rumah keluarga Indro Warkop tampak terang. Di perumahan mewah Jalan Kayu Putih Tengah, Jakarta Timur, itu tampak tiga motor berdiri berjajar. Dua motor Harley Davidson dan satu motor Yamaha. Seekor burung kenari bertengger dalam sangkar yang bergantung tak jauh dari ketiga motor itu. Satu mobil Jeep putih buatan tahun 1981, terparkir di garasi terbuka. Ada lambang motor Harley Davidson berukuran besar yang terpaku di tembok garasi itu.

Indro memang menggandrungi Harley Davidson. Berbagai aksesoris motor besar buatan Amerika itu pun menjadi penghias di ruang tamunya. Ada yang terbuat dari tembaga dan berbentuk lukisan biasa. Miniatur sepeda tua di dalam figura kaca, berdiri di meja kiri. Boneka berkepala singa, terpajang di meja sudut kanan.

Siang itu, Indro duduk santai di samping pajangan boneka singa. Persis menghadap keluar rumah. Di rumahnya tak ada asbak rokok. Maklum, sejak dirinya didiagnosis terkena gejala penyakit jantung, ia berhenti merokok.

Malam itu, pertengahan Mei, ia mengenakan baju berbahan jeans berlengan buntung dan celana “kargo” gunung berwarna coklat. Ujung lengan dekat bahu bagian kanan dan kirinya, ditato lambang Harley Davidson. Telinga kiri berusia 49 tahun itu dihiasi tiga anting perak dan dua anting di telinga kanannya. Penampilan garang itu rasanya pas dengan hobinya mengendarai motor besar.

“Gue udeh nggak konvoi-konvoi lagi. Pake motor Harley, pas memang lagi kepengen jalan aja. Maunya sih, pake motor kecil. Tapi, kasihan motornya. Badan segede gini, kok pake motor kecil,” Indro tertawa sambil memperlihatkan badannya.

Menggendarai motor Harley Davidson, hobi yang mendarah-daging dari keluarganya. Di komunitas Harley Davidson, ia menjabat sekretaris jenderal cum pendiri pertama Harley Davidson Club Indonesia (HDCI). Karena kegandrungannya, anak bungsunya ia beri nama Harley. Motor pertamanya dibeli tahun 1975.

“Ini mobil pertama yang gue punya. Keluaran tahun 1981,” ujarnya. “Mobil ini gue beli karena jasa Warkop. Makanya, gue piara banget ampe sekarang. Pokoknya nggak mau gue jual.”

“Semua yang gue punya, berkat jasa Warkop. Nggak ada pendapatan lain.”

Baginya, Warkop adalah darah daging. Meski sendirian, ia tak ingin Warkop pupus. Ia merasa masih sebuah keluarga. Keluarga yang harus dipertahankan. “Warkop kan, tinggal gue doang. Ya, gue yang memberikan saran dan mengawasi kehidupan mereka,”

Mereka yang dimaksud Indro adalah anak-anak keluarga Warkop, mulai Dono hingga Kasino. “Kalo dihitung-hitung, gue udeh punya anak tujuh. Tiga anak gue, satu anak Kasino, dan tiga anaknya Dono.”

*********

Tahun 1973 di Perkampungan Mahasiswa Universitas Indonesia di Cibubur, sedang berlangsung konsolidasi mahasiswa. Mereka akan menentang rencana kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soeharto. Di sana Kasino, Nanu, dan Rudy Badil yang paling menonjol mengatur acara supaya ramai dan tidak menjenuhkan.

Ide penentangan Tanaka berawal saat berlangsungnya diskusi di UI pada Agustus 1973. Pembicaranya, Subadio Sastrosatomo, Sjaffruddin Prawinegara, Ali Sastroamidjojo dan TB Simatupang. Saat itu mereka mendiskusikan soal peran modal asing.

Temmy Lesanpura, mahasiswa UI yang juga Kepala Program Radio Prambors menemui Kasino, Nanu, dan Rudy Badil di dalam acara konsolidasi mahasiswa tersebut. Ia menawari ketiganya untuk mengisi acara radio Prambors. “Mau nggak isi acara di Prambors,” tanya Temmy. Ketiganya setuju. Namun mereka masih bingung apa nama acara itu.

Setelah berdiskusi panjang, akhirnya mereka temukan nama acara itu: ‘Obrolan Santai di Warung Kopi’. September 1973, mereka mulai siaran. Jam siaran setiap hari kamis malam pada jam 20.30 sampai 21.15. Tak ada persiapan apa pun. Ide guyonan selalu ditemukan ketika akan siaran. Dan ceritanya seenaknya saja.

Nama warung kopi disematkan sebagai tempat yang paling demokratis untuk membicarakan hal-hal hangat di negeri ini. Konsep siaran bergaya komunikatif dan berkesan orang kampung memang menjadi cara menarik minat orang untuk mendengarkan siaran mereka. Untuk itu, masing-masing punya aksen suara yang berbeda. Kasino menirukan logat China dan Padang. Nanu dengan logat Batak, dan Rudy Badil dengan aksen Jawa.

Tahun 1974, Dono direkrut untuk bergabung di acara itu. Ia dikenal sebagai salah satu aktivis UI. Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS, sekarang FISIP) itu dikenal tak banyak bicara. Namun sekali berbicara, banyak orang tertawa. Apalagi aksen Jawa-nya kental.

“Dari materinya, acara ini sering nyinggung juga tentang anti modal asing. Tapi, sentilannya tidak kentara. Halus banget. Kita tahu, arahnya ke masalah hangat juga,” tutur Indro.

15 Februari 1974. Saat itu Tanaka tiba di Jakarta. Mahasiswa melangsungkan aksi unjuk rasa di Bandar Udara Halim Perdanakusuma. Tiga pokok tuntutan mahasiswa dalam aksi itu; pertama, pemberantasan korupsi, perubahan kebijakan ekonomi yang berkaitan dengan modal asing yang didominasi Jepang, dan pembubaran lembaga yang tidak konstitusional.

Aksi kedatangan Tanaka kemudian meluas di beberapa tempat lainnya di Jakarta. Ironinya, terjadi kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan. Mobil dan motor buatan Negeri Sakura itu, dibakar massa. Asap mengepul di segala penjuru.

Peristiwa itu, akhirnya dikenal dengan ‘Malari 74’, kependekan dari Malapetaka Lima Belas Januari 1974. Dari kejadian itu, diperkirakan, 11 orang meninggal, 300 orang luka-luka, 775 orang ditahan, ribuan mobil dan motor rusak serta terbakar. Ratusan kilogram emas hilang di sejumlah toko perhiasan.

Saat berlangsung unjuk rasa anti Tanaka, Wahjoe Sardono alias Dono berada di antara kerumunan massa di kampus UI, Salemba, Jakarta Pusat. Dengan membawa kamera, ia berupaya mendekati podium. Dono meraih mikrofon, lantas menyorongkannya kepada Rektor UI Prof. Mahar Mardjono untuk berorasi di hadapan massa.

Dono tidak hanya ikut aksi demo. Ia juga sibuk memotret semua peristiwa aksi. Banyak wartawan yang sudah mengenalnya sebagai pelawak di Radio Prambors. Kepada salah satu media di Jakarta, Dono mengatakan dengan berkelakar,” Tadinya saya punya niat untuk ikut demonstrasi yang dibayar.”

“Saya kan terkenal. Jadi kalau demonstrasi bisa cepet ngumpulin banyak orang. Kan, lagi krisis, wajar kalau orang nyari duit,” kelakar Dono kepada wartawan.

Dono sebenarnya ingin ikut bicara dan memberikan lawakannya untuk menghibur massa. “Tapi. Tidak diberi mikropon, jadinya batal.”

Sehari sebelum kejadian, Indro baru pulang dari Filipina menjadi kontingen Indonesia untuk acara Jambore Internasional. Tiba di Bandar Udara Kemayoran, Indro kaget. Banyak tentara. “Gue pikir, kontingen pramuka disambut. Hebat banget,” kenang Indro. Saat itu ia masih kelas 1 SMA.

Dalam kontingen, turut serta anak Pakubuwono. Indro diminta menjaganya. Semua anggota Pramuka dibawa masuk ke dalam ruangan VIP. Lantas langsung dilarikan ke rumah kediaman Pakubuwono di Jalan Mendut, Menteng. Indro memilih pulang ke rumahnya. Firasat Indro, akan ada kejadian luar biasa di Jakarta. “Seharusnya kontingen dimasukan dulu ke karantina,” tuturnya.

“Besoknya gue baru tahu, kalau ternyata ada demo besar-besaran dan terjadi pembakaran.”

Jakarta mencekam. Di kampus UI, Salemba sudah ramai pengunjuk rasa. Indro berjalan kaki dari rumahnya ke kampus UI Salemba. Di sana, ia melihat situasi yang mengerikan. Pembakaran mobil dan motor banyak dilakukan di jalan-jalan. “Saya juga sempat nolong orang tua yang ketakutan,” tuturnya.

Sementara itu Kasino juga berada di antara massa yang berada di Bandar Udara Halim. Saat itu, dia menjabat sebagai Wakil Senat Mahasiswa FIS UI. Massa mahasiswa dan polisi sudah saling berhadapan. Polisi anti huru-hara dipersenjatai tameng rotan dan alat setrum. “Ye…beraninya pake setrum,” tutur Kasino.

Tiba-tiba, polisi menyerang pengunjuk rasa. Kasino dikejar-kejar sampai ke komplek Angkatan Udara yang tak jauh dari Bandara. Ia terpojok. Dengan posisi itu, Kasino mengatakan, “Jangan pukul dong pak. Saya kan cuma ikut-ikutan.” Kasino tidak jadi dipukul.

Masa-masa itu telah berlalu. Usai peristiwa Malari 1974, Warkop Prambors tetap mengudara dengan guyonan lucunya. Tahun 1976, barulah Indro bergabung. Ia sudah mengenal empat anggota Warkop Prambors. Maklum, rumahnya dekat dengan studio. Jika ada yang siaran sendiri, ia yang menemaninya. Saat itu, Indro masih kelas 3 di SMA 4 Jakarta.

Di radio Prambors, Indro bukan orang baru. Rumahnya berdekatan dengan radio itu. Nama Prambors diambil dari gabungan jalan di kawasan Menteng. Kepanjangan dari Jalan Prambanan, Mendut, Borobudur dan sekitarnya. Awalnya disematkan untuk Rukun Tetangga (RT) di sekitar situ. Julukannya, RT Prambors.

Saat itu, Radio Prambors hanya amatiran. Kakak sepupunya, Yudi, salah satu orang yang mendirikan sebelum radio itu akhirnya berubah fungsi menjadi radio bisnis. “Pas siaran, gue juga yang sering nemenin penyiarnya,” ujarnya.

Kasino yang mengajak Indro untuk mulai permanen di acaranya. Saat itu, sedang ada pertandingan softball. Indro menjadi pemain sekaligus tukang soraknya. “Ndro, nanti malam elu mulai permanen. Mau nggak?” Tanya Kasino seusainya. Indro langsung menerima ajakannya. Tak hanya di acara itu, Indro mulai diajak show Warkop.


Formasi acara obrolan di warung kopi menjadi lima orang. Kasino, Nanu, Rudy Badil, Dono, dan Indro. Tak ayal, acara ini kian ramai. Masing-masing punya perannya sendiri. Kasino kadang berganti nama menjadi Acing dan Acong dengan logat China. Nanu menjadi Poltak yang beraksen Batak. Rudy Badil berganti nama menjadi Mr. James dan Bang Kholil.



“Gue berperan sebagai Mastowi, Ubai dan Ashori dengan aksen Purbalingga. Sedangkan Dono sebagai Mas Slamet,” kata Indro.
“Pokoknya, semua isi obrolan bebas banget. Tentang apa aja,” kata Indro.

Nama kelompok mereka disebut dengan julukan Warkop Prambors. Pentas kali pertama tahun bulan September 1976, saat pesta perpisahan SMP 9 Jakarta di Hotel Indonesia. Hasilnya dikatakan belum berhasil. Semua personil gemetaran. Mereka dapat honor transport Rp20 ribu. Indro belum bergabung.

Pentas kali pertama Indro di acara SMP 1 Cikini, Jakarta. Sebelum pentas, Dono harus mojok dulu untuk menenangkan dirinya. Rudy Badil, menolak mentas. “Badil dikenal demam panggung,” ujarnya. “Kalau Dono, harus pelajarin dulu materi guyonannya. Sebelum pentas, Dono ngumpet.”

Tak lama kemudian, Warkop diundang di acara IDI (Ikatan Dokter Indonesia). Mereka bertemu dengan Mus Mualim, seorang pemain musik ‘Indonesia Lima’. Mus berencana membuat acara untuk tahun baru 1977 di TVRI alias Televisi Nasional Indonesia. Warkop ditawarin untuk nyanyi bareng oleh Mus Mualim. Nama acaranya Terminal Musikal, tempat anak muda yang mangkal di TVRI .

“Yang brengsek itu Nanu. Pas pentas di IDI itu. Ia malahan nggak jelas keberadaannya. Nggak tahu, ia ngumpet di mana,” kisah Indro.

“Mentas cuma bertiga. Gue, Dono, ama Kasino. Dono aja masih gugup. Jadi tinggal gue ama Kasino yang peran abis-abisan.”
Dari situlah, Warkop Prambors mulai dibesarkan. Semua media di Indonesia, banyak membicarakan kelompok lawakan ini. Guyonan Warkop akhirnya dikasetkan. Ada sembilan kaset. Kaset pertamanya berjudul cangkir kopi. Direkam langsung saat pementasan di Palembang. Di kaset kelima berjudul Pingin Melek Hukum. Indro berperan sebagai mahasiswa penyuluh hukum, sedangkan Kasino dan Dono sebagai warganya.

Ketenaran di radio dan di pementasan membuat Hasrat Juwil, eksekutif produser PT. Bola Dunia melirik Warkop Prambors. Hasrat yang juga anak Prambors, menghubungi Warkop untuk bermain film. Soal skenario, Warkop diberikan kebebasan. Honor pertama untuk Warkop Rp15 juta. “Uang itu, kami bagi rata,” ujar Indro.

Film pertamanya berjudul; Mana Tahan di produksi tahun 1979. Artis perempuannya Elvy Sukaesih. Film terakhirnya berjudul; Pencet Sana Pencet Sini, dibuat tahun 1994. Artis pendukungnya, Sally Marcellina dan Taffana Dewi. Selama 15 tahun itu, Warkop telah membintangi 34 film.


Beberapa perusahaan film yang pernah melibatkan Warkop, antara lain PT. Nugraha Mas
Film, PT. Parkit Film, dan PT. Garuda Film. Sejak tahun 1985, akhirnya diambil alih oleh PT. Soraya Intercine Film yang dimiliki oleh keluarga Soraya. Saat itu direkturnya, Raam Soraya.


“Raam sangat membantu keluarga Warkop. Sampai sekarang pun, ia tetap memperhatikan anak-anak kami. Ia juga, masih ingin bekerja sama dengan Warkop,” ujar Indro.


Tahun 1983, hari yang sangat menyedihkan bagi Warkop, Nanu bernama asli Nanu Mulyono, meninggal dunia akibat sakit ginjal. Dikuburkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta. Ia hanya sempat memerankan beberapa film saja. Sedangkan Rudy Badil, tidak pernah sama sekali terlibat dalam pembuatan film. Warkop akhirnya tinggal bertiga, Dono, Kasino Indro.
Nama Warkop Prambors akhirnya berubah menjadi Warkop DKI. Embel-embel Prambors dilepaskan untuk menghindari pembayaran royalti kepada Radio Prambors.

“Dulu sempat ada permainan anak-anak yang menyebutkan istilah DKI dengan nama Dono, Kasino, Indro. Kita kaget. Kok ada permainan yang dikarang oleh anak-anak dengan nama kami. Kenapa kita tidak pake aja nama DKI” tutur Indro.
Sejak itulah mereka bersepakat menambah DKI di depan kata Warkop
“Akhirnya, berganti deh menjadi Warkop DKI. Terus diplesetin lagi, DKI itu kependekan dari Daerah Khusus Ibukota.” Indro tertawa.

Film yang dibintangi Warkop DKI semakin menarik perhatian masyarakat. Semua orang membicarakannya. Film yang mereka bintangi pun menjadi film Indonesia termahal dan paling laris.
Era tahun 1980 hingga 1990, perfilman Indonesia berada di puncaknya. Di antara begitu banyak film yang diproduksi pada saat itu, film yang dibintangi Warkop DKI dan Rhoma Irama, merupakan dua film yang selalu ditunggu oleh penonton.

Pada masa jayanya, film Warkop DKI tidak hanya ditayangkan bioskop lokal. Jaringan bioskop untuk orang kelas menengah ke atas, Teater 21, sering menayangkan film mereka. Tak hanya itu, di kampung-kampung diadakan ‘layar tancap’ yang menayangkan film Warkop DKI. Masyarakat pun berbondong-bondong untuk selalu menjadi tontonan menarik bagi masyarakat.


“Kita punya kelas penonton sendiri. Semua orang di Indonesia, selalu membicarakan kelompok Warkop DKI,” kenang Indro.

Dengan semakin terkenalnya, Warkop banyak mendapat undangan ke daerah di seluruh Indonesia. Kisah yang tidak terlupakan, kenang Indro, saat berkunjung ke Timika, Papua.
Masyarakat di sana memadati lapangan dengan mengenakan koteka. Selama berlangsung dialog lawakan, tak ada satu pun warga yang tertawa. “Kami bingung,” tuturnya. Koteka adalah alat penutup kemaluan untuk pria. Di buat dari buah labu. Isi dan bijinya dibuang dan dijemur. Setelah kering, baru bisa dijadikan penutup kemaluan.

“Tiba-tiba Dono berinisiatif. Ia berlari-larian dengan gayanya yang lucu di atas panggung,” Indro memperagakan gaya Dono kepada saya. Gaya Dono, tiru Indro, bergoyak dan melenggokan tubuh sambil tertawa-tawa.
“Saya dan Kasino, ikutan juga bergaya kayak Dono. Eh…penonton baru pada ketawaan,” kenang Indro sambil tertawa.
Kocak Warkop DKI selalu ramai oleh penonton. Kelompok ini, tidak pernah surut dari zaman dan tidak pernah sepi dari kelucuan. Di mana ada Warkop, disitu orang tertawa.
************
Tubagus Deddy Gumelar alias Miing yang kini membentuk kelompok lawak Bagito Group, punya kenangan sendiri dengan Warkop DKI. Tahun 1986, dirinya diajak oleh Kasino untuk menjadi staf asistennya. Sendirian.
“Kasino melihat saya, karena lawakan Bagito banyak nyinggung ke masalah sosial dan politik. Dan akhirnya saya diajak. Saya setuju. Karena Warkop juga punya nama besar saat itu,” kisah Miing.
Miing bergabung, setelah Nanu meninggal dunia dan Rudy Badil tidak ikutan lagi pada setiap pementasan. Miing tidak hanya menjadi asisten, beberapa kali ia terlibat langsung bermain dalam film Warkop.
Di Warkop, ia banyak banyak belajar tentang profesionalitas. Pembagian kerjanya, Dono bertugas dalam hal hubungan pihak luar. Kasino soal bisnisnya, dan Indro sebagai bendahara dan mengatur hubungan kerja sama.
Honor yang diperoleh Miing sebagai asisten sebesar 10 persen dari pendapatan panggung yang diperoleh Warkop. “Saya pernah dapat Rp750 ribu. Berarti honor Warkop tujuh juta setengah. Saat itu uang segitu gede,” ujar Miing.
Tugas Miing, mempersiapkan semua perencanaan pementasan Warkop. Termasuk materi guyonannya. Jika ada pementasan di daerah, tugas Miing yang mencari materi yang tepat untuk daerah tersebut. Sehingga, lawakan Warkop pas dengan situasi yang sedang digandrungi. Dari bahasanya sampai pola tingkah serta budaya daerah yang didatangi.
Selama menjadi asisten Warkop, banyak cerita yang mewarnai kehidupan Miing. “Maklum orang desa,” tuturnya. Tak ayal, sang asisten itu kerap jadi korban. “Saya pernah disuruh bawa setrikaan. Kostum yang mereka kenakan saja, pernah saya yang cuci sampai setrika.”
Setiap pentas di luar kota, Miing selalu sekamar dengan Indro. Dan Dono sekamar dengan Kasino. Selama sekamar dengan Indro, Miing selalu berebutan soal alat pendingin kamar. Indro, kata Miing, selalu menginginkan ruangan dengan pendingin. Sedangkan ia sendiri tak tahan.
“Indro, kan memang berasal dari orang mampu. Nah, gue! Gue kan, orang kampung yang selama hidup nggak pernah kena ruangan pendingin,” ujarnya.
Suatu hari di hotel Surabaya, Jawa Timur, Indro ingin tidur. Ia hanya mengenakan celana dalam dan kaos. AC dinyalakan. Miing tak tahan. Ketika Indro sudah terlihat mendengkur, diam-diam Miing mematikan AC. Ketika hawanya tidak dingin, Miing baru bisa tidur.
Belum lama ia terlelap, Indro terbangun dan diam-diam menyalakan AC lagi. Tak ayal, Miing terbangun dengan badan kedinginan. Begitu seterusnya. “Karena asisten, jadinya mengalah terus deh,” ujarnya.
Cerita lainnya. Ketika pesawat baru mendarat di Surabaya, Miing demam. Kupingnya terasa panas. Dalam kamar hotel, badannya menggigil. Demam tinggi. Selimut tebal menutup tubuhnya.. “Pokoknya, tubuh gue udeh kacau banget. Penyakit sinusitis kambuh lagi.” ujarnya.
Dalam kondisi itu, Indro malah menghilang dari kamar. Miing kaget. Pelan-pelan ia keluar kamar. Dari balkon tangga hotel, ternyata Indro ada di loby hotel. Sedang merokok dan ngobrol dengan pegawai hotel.
Sambil teriak dan tertawa, Indro mengatakan, “Gue takut elu entar mati di kamar. Terus, gue yang yang kena jadi saksinya,” kata Indro kepada Miing. “ Waduh, kalo inget itu, gua jadi ketawa,” ujarnya.
Tentang Dono, ia adalah sosok orang yang serius dan sulit diajak komunikasi. Tapi sekali bicara, ternyata enak. Miing pernah dikerjain oleh Dono. Di Hotel Surabaya, sekitar pukul 09.00, petugas kamar hotel mengetuk pintu kamarnya. Miing membuka pintu. “Ini pesanan asinan dan acar,” kata petugas itu.
Miing kaget. “gile..pagi-pagi siapa yang pesenin asinan ama acar,” pikir Miing bingung. Akhirnya, disantap juga. Tak lama kemudian, telepon hotel berbunyi, terdengar suara Dono dengan mengatakan, “Ing, asinan ama acarnya enak nggak,” ujar Dono sambil tertawa dan menutup telponnya.
“Sialan..nggak tahunya yang pesanin asinan ama acar pagi-pagi si Dono. Gile bener…gue dikerjain disuruh makan asinan ama acar doang…”tutur Miing tertawa mengenang masa itu.


“Kebiasaan Dono selama di daerah apa aja?” Tanya saya.
Dono itu, tutur Miing, punya kebiasaan bangun pagi. “Sebelum yang lainnya bangun, ia tuh, bangun pasti lebih dulu,” ujar miing.
“Ngapain pagi-pagi ia bangun?” Tanya saya.
“Dono selalu jalan pagi menelusuri kampung-kampung di sekitar hotel. Ia selalu membawa kameranya untuk memotret kehidupan sekitarnya. Itu yang selalu Dono lakuin. Pokoknya, kamera nggak pernah ketinggalan,” ujarnya.


“Bagaimana dengan Kasino?” tanya saya.
Kasino, dikenal orang yang cukup care. Ia memperhatikan kebutuhan Warkop. Orang ini yang banyak memberikan saran dan pendapatnya. Ia juga yang pernah mengubah penampilan pakaiannya.


“Kasino pernah nyuruh gue, make jas. Gue, kan nggak biasa kayak gitu. Kasino bilang harus rapi,” tutur Miing. “Ia akhirnya ngasih jas miliknya. Bayangin aja, jas yang terbaik saat itu kan merek Prayudi. Merek ini dulu terkenal. Akhirnya, gue pake deh,” ujarnya, tertawa.
“Eh,..ia juga ngasih gue sepatu kets. Waduh…gue akhirnya pake juga. Gue kan, orang kampung. Istilahnya Tukul, ‘Katrok’,” Miing tertawa lagi.
Selain Miing, saya juga menemui Kiki Fatmala di rumahnya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Artis yang pernah menjadi peran pendukung dalam beberapa film Warkop DKI. Kali pertama, gadis seksi ini terlibat dalam film ‘Bisa Naik Bisa Turun’ yang diproduksi tahun 1991. Artis perempuan lainnya, Sally Marcellina.
“Terlibat di Warkop, punya kebanggaan sendiri. Pokoknya, semua artis saat itu selalu membicarakan film mereka. Tidak mudah bisa main di Warkop,” ujar ia.
“Belum lengkap jadi artis, kalau belum main sama Warkop. Bayarannya paling tinggi, nama artis akan mudah melonjak. Cara kerjanya, juga enak.”
Warkop di mata Kiki, kelompok yang gaul dan tidak kaku. Semuanya serba tidak serius. Dari tiga anggota Warkop, yang paling konyol adalah Indro. Sedangkan Dono dan Kasino, lebih banyak serius. Hanya sesekali saja becanda.
“Indro kalau lagi iseng, yang dilihatnya bagian tubuh montok-montok. Apalagi kalau lihat dada,” tutur Kiki. “Tapi ini becandaan aja.”

Kiki berdiri dari bangkunya. Ia menirukan gaya Indro yang mengangkat kedua tangannya sambil didekatkan ke dadanya. “Nah..ini yang montok,” Kiki tertawa. “Kebiasaan kalau istirahat syuting, kami sering main kartu. Pake cemongan muka.”
“Pas sutradara teriak syuting dimulai lagi, kita cuekin aja,” ujar Kiki. “Terus kita bilang aja, Entar…entar…belum selesai nih,” kenangnya. “Pokoknya mereka konyol.”
*******



16 September 1997, Warkop DKI berduka. Kasino Hadiwibowo alias Kasino Warkop meninggal dunia pada usia 47 tahun. Suami Amarmini itu meninggal akibat menderita tumor otak di Rumah Sakit Cipto Mangukusumo, Jakarta. Indro tidak sempat melihat langsung detik-detik nyawa Kasino melayang.
Selama dalam perawatan, Indro dan Dono berbagi tugas menjaganya. Hari itu, tepat tugas Indro yang menungguinya. Sebelum malam, Indro pulang ke rumahnya untuk menemui Istrinya. Rencananya, malam akan kembali ke rumah sakit.
Dokter jaga menelpon dan memberitahukan, kondisi Kasino kritis. Indro panik. Dengan motornya ia melaju. Setibanya di rumah sakit, dari parkir mobil ia harus berlari menuju ruang rawatnya. “Kasino sudah meninggal,” ujar dokter setibanya.
Indro terdiam sejenak. Matanya berkaca-kaca. Ia terlihat menahan rasa sedihnya dengan peristiwa itu. Saya ikut terdiam. Indro melanjutkan ceritanya. “Semua keluarga besar Warkop termasuk istri saya, yang terakhir dikabarin.” Indro terdiam lagi. “Saya tidak ingin keluarga panik,” ujarnya. Kasino dikubur di pemakaman Tonjong, Bogor.
Pekan lalu, saya mengunjungi rumah tinggal keluarga almahum Kasino di kawasan Kayu Putih, Jakarta Timur. Saya ditemui putri tunggalnya, Hanna Sukmaninggsih, 31 tahun. Sudah menikah dan belum punya anak. Ia alumni Universitas Trisakti Jurusan Design dan Universitas Indonesia di Fakultas Psikologi.
Di rumahnya, Hanna berjualan kue ala Belanda. Rumah itu bukan peninggalan Kasino. “Ini rumah keluarga ibu,” katanya. Dulu, rumahnya berada persis di rumah yang ditinggalinya sekarang.
“Peninggalan Papa sudah tidak ada lagi. Sudah dijual untuk biaya pengobatan. Rumah, mobil dan semua peninggalan sudah habis,” ujarnya. “Kan, Papa menjalani perawatan sekitar setahun lebih.”
Kasino meninggal ketika Hanna masih kuliah. Untuk biaya hidup sehari-hari, ibunya yang bekerja ditambah dengan uang sisa hasil penjualan barang-barang keluarga. Dari situlah, Hanna menamatkan pendidikannya.
Menjelang kematian Kasino, Hanna dan Ibunya sedang pulang ke rumah untuk mengambil pakaian. Dan malam itu, tidak ada satu pun keluarga yang ada di samping Kasino. Kasino, kata Hanna, seakan tidak ingin kepergiannya dilihat langsung oleh keluarganya. Kabar duka itu malah diketahui dari sepupunya yang lebih dulu tiba di rumah sakit.
Kanker otak yang diderita Kasino, katanya, diduga saat dirinya jatuh dari sepeda gunung yang dikendarainya. Karena semenjak itulah Kasino mulai sakit-sakitan di bagian kepalanya. “Tidak ada pesan apa pun dari Papa sebelum meninggal,” ujarnya.
Empat tahun kemudian setelah Kasino meninggal, tepatnya 30 Desember 2001, Dono Warkop DKI meninggal dunia di usia 50 tahun. Pria kelahiran Solo ini, meninggal di Rumah Sakit Saint Carolus, Jakarta. Dosen FISIP UI ini, akibat penyakit tumor paru-paru. Indro menyaksikan detik-detik kematiannya.
Beberapa jam sebelum Dono meninggal, tim medis sudah memberi kabar kondisi kritisnya. Semua keluarga besar Warkop DKI dan artis lainnya, berdatangan. Dari kalangan wartawan hanya ada Rudy Badil. Indro berdiri persis di ujung ranjang berhadapan dengan Dono. Tim dokter berada di dekat wajah Dono sambil terus memeriksa kesehatannya.
Indro memperhatikan dokter yang mulai risau sambil melihat jam dinding yang terletak di belakang Indro. Saat itu, bersamaan terdengar suara adzan dari seorang ustad yang sengaja didatangkan. Indro ikut gelisah. “Tidak mungkin adzan. Saat itu, belum waktunya adzan Subuh. Masih tengah malam,” pikir Indro.

Dengan gelagat itu, Indro langsung menoleh ke arah jam dinding. “Saya melihat, jam menunjukan pukul 00.05,” tutur Indro. Dan bersamaan dengan itu, tim medis rumah sakit langsung menyampaikan, “Dono meninggal dunia pukul 00.05,” kata dokter di hadapan kerabat Dono. Ia dikubur di pemakaman Tanah Kusir, Jakarta.

Kematian Dono meninggalkan ketiga anaknya, Andiko Ario Seno, Damar Canggih Wicaksono, dan Satrio Trengginas. Istri Dono, Titi Kusumawardhani, lebih dulu meninggal dunia di tahun 1999 akibat penyakit kanker payudara.
Indro teringat selama Dono menjalani perawatan, kondisinya sangat memprihatinkan. Dia sulit untuk bernafas. Dadanya terasa sesak. Penyakit paru-parunya sudah parah. Ia hanya bisa memberikan isyarat tangan jika ditanya kondisinya.
Menjelang Dono meninggal, kenang Indro, ada keanehan saja. Tiba-tiba ia memanggilnya dan berbicara pelan-pelan. Dono mengatakan, nafasnya tidak terlalu sesak lagi. “Nafas legaan,” kata Dono.
“Ternyata, kalimat itu yang terakhir,” tutur Indro.


Indro punya rencana. Tulisan Dono yang pernah dimuat maupun yang masih tersimpan akan dibukukan. “Dono itu orang yang rajin menulis. Tapi, ia juga orang yang berantakan tentang arsip.”
Sejenak Indro berhenti bercerita kepada saya. Ia terlihat tegar menceritakan kisah-kisah terakhir temannya. “Anda tahu, apa rahasia terakhir antara Kasino dan Dono,” tanya Indro. Saya menggelengkan kepala. “Dua orang ini pernah tidak pernah bicara selama tiga tahun.”
Masalahnya, karena beda prinsip. Kasino dan Dono selalu beda prinsip dari banyak hal. Konflik itu, hanya Warkop yang tahu. Tidak ada satu pun orang yang mengetahui kejadian itu. “Termasuk para istri kami,” kata Indro.
Karena Dono sudah pernah membeberkan ‘perang tutup mulut’ itu, akhirnya bukan jadi rahasia umum lagi. “Bayangkan selama tiga tahun, berdua nggak ngomong. Kalau pentas, yang biasa aja. Tapi pas di luar kegiatan, berdua berdiaman,” tutur Indro.
Indro tak hanya bercerita kenangannya dengan Warkop. Kepada saya, dia juga menceritakan tentang keluarganya. Indro tak menyangka hidupnya di dunia lawak. Dulu, ia ingin sekali menjadi seorang polisi seperti ayahnya. Tapi dalam filmnya berjudul ‘Chips’ buatan tahun 1982, Indro berperan sebagai polisi yang bertugas mengatur lalu lintas. Artis pendukungnya; Tetty Liz Indriati dan Chintami Atmanegara.

Indro yang bernama lengkap Indrodjojo Kusumonegoro itu dilahirkan pada 8 Mei 1958. Ia anak tunggal dari seorang Jenderal Polisi bernama Muhammad Oemar Gatab. Indro dikaruniai tiga anak: Handika Indrajanthy Putrie, Satya Oktobijanty dan Harleyano Triandro Kusumonegoro. Pendidikan terakhir Indro adalah Sarjana Ekonomi di Universitas Pancasila, Jakarta.

Sebelum ayahnya meninggal, ada surat wasiat yang dititipkan kepada ibunya, R. Ay. Soeselia. “Intinya surat wasiat itu, gue nggak boleh meneruskan pekerjaan yang sama dengan bokap,” tutur Indro.
Mata Indro terlihat berkaca-kaca saat mengenang orang tuanya. Ia terdiam sejenak. Menurutnya, ayahnya seorang polisi yang jujur. Saat meninggal dunia, tidak ada warisan kekayaan apapun yang ditinggalkannya. “Bapak gue malah ninggalin utang untuk lunasin rumah.”
“Kalau bokap gue nggak jujur, mungkin keluarga gue nggak kere begitu.”
“Konon sih, dari beberapa tulisan yang pernah saya baca. Bokap gue ini, dulu gurunya Hoegeng,” ujarnya. “Bokap gue juga terkenal dengan julukan jagonya intelijen.”
Hoegeng adalah mantan Kapolri tahun 1968-1971. Nama lengkapnya Hoegeng Iman Santosa. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Iuran Negara (1965-1966), Menteri Sekretaris Kabinet Inti/ Presidium Kabinet Dwikora (1966-1967), dan Deputy Operasi Men/Pangab (1967-1968). Hoegeng adalah Kapolri yang pertama kali mencetuskan ide memakai helm. Ia meninggal dunia pada 14 Juli 2004.
“Pas bokap meninggal, ibu gue akhirnya buka katering makanan. Walaupun keluarga saya tinggal di Menteng. Dari luarnya aja keren, tapi dalamnya kere. Rumah gue itu, tempat tampungan semua keluarga dari kampung,” tutur Indro. “Semua kebutuhan dari kampung ini, keluarga gue yang tanggung.”
“Gue aja yang nggak mau minta-minta ama orang tua,” ujarnya.
Ibunya Indro pernah mengatakan, “Ndro, walaupun keluarga dari kampung datang. Tapi, rumah ini tetap warisan kamu. Kamu yang punya hak. Bukan siapa-siapa,” ujar ibunya.
“Tapi sampe sekarang, gue nggak tinggalin rumah yang di Menteng. Sampe sekarang, biarin aja keluarga dari kampung yang kumpul di sana.”
Kini, Warkop DKI hanya tinggal Indro sendiri. Akting tak jua ditinggalkannya. Ia masih sibuk syuting film sinetron sebagai Indro Warkop di televisi swasta. Ia juga menjadi pembawa acara “SMS” di televisi Indosiar bersama Taufik Savalas.


Indro tidak ingin nama besar Warkop DKI ikut mati. Ia mengarahkan putra-putri dari Warkop DKI, sesuai pesan terakhir Dono, agar membentuk lembaga penerus keluarga besar Warkop DKI. Gagasan itu kemudian direalisasikan dengan mendirikan Lembaga Warkop DKI yang diketuai Hanna Kasino. Sedangkan pengurus lainnya adalah anak-anak Dono, Kasino dan Indro. Sekretariatnya di rumah Indro. Untuk memfasilitasi fans Warkop, lembaga ini membuat situs internet www.warkopdki.org.
Tak terasa, 34 tahun lamanya, Warkop DKI masih juga tak surut dari guyonannya. Kendati cuma ada Indro, grup ini masih berkibar dengan gayanya sendiri. Kelompok lawak legendaris ini akan membuat orang tertawa, sebagaimana mottonya yang selalu diingat oleh pengemarnya: “tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”.








Kata kunci: warkop dki








1 komentar:

  1. Terima Kasih atas Kutipan nya. akhirnya saya tahu peristiwa yang dialami warkop dari awawl sampai akhir. :)

    BalasHapus